INTEGRATION OF BODY-MIND-SPIRIT

DI MANAKAH KITA BERADA?

Wahyuni Kristinawati., M.Si., Psi

Pada dasarnya disadari bahwa tidak mungkin sebuah kejadian, kesadaran, persepsi, hadir dalam situasi yang vakum atau kosong. Sebaliknya semuanya selalu berada dalam sebuah situasi. Atau dapat dikatakan bahwa fenomena selalu dilatarbelakangi dan disertai sebuah konteks yang tidak hanya variatif, tetapi juga kompleks dan dinamis; oleh karena itu pemahaman sebuah fenomena akan menjadi lengkap jika konteks yang menyertainya selalu diperhitungkan dan diterima.

Nampaknya kesadaran ini turut berperan sehingga isu tentang pemikiran holistik semakin gencar dipergunakan, tidak hanya dalam pendekatan psikologis, namun juga pada bidang lain seperti medis, pendidikan,seni, dan bidang lainnya.Hal ini tidak berarti pendekatan yang menunjuk pada sisi tertentu saja kemudian akan ditinggalkan (dalam ilmu sosial perkembangan baru dari satu teori memang tidak berimplikasi tumbangnya teori lain, satu sama lain justru semakin saling memperkaya dan memperkuat).

Integrasi body-mind-spirit sebagai sebuah konsepbukanlah sebuah konsep yang baru dalam ranah ilmu social. Namun pada tahun 2010 konsep ini menjadi rujukan dan ditetapkan menjadi visi dan misi Prodi Psikologi UKSW periode 2010-2020 mengingat kompleksitas masyarakat Indonesia semakin menuntut kajian dan pengembangan ilmu dan pelayanan praktis yang mampu mewadahi arena yang luas. Kedalaman kajian sendiri juga tidak bisa tidak memerlukan sudut panjang ke segala arah sehingga pemahaman fenomena diharapkan makin lengkap dan tepat.

Posisi Integrasi dalam Paradigma Psikologi

Hadirnya body (tubuh), mind (pikiran), emosi, dan spirit sebagai fondasi kehidupan manusia telah diterima dalam budaya-budaya asli sejak ribuan tahun yang lalu dan saat ini semakin diperkaya dalam dialog dan pengalaman sehari-hari. Dalam budaya Jawa dikenal konsep “Manunggaling Kawula Gusti”, ajaran Syekh Siti Jenar (1426) -- meski terdapat pro dan kontra tentang ajaran ini (termasuk apakah ia benar-benar pernah ada ataukah dia adalah sebuah filosofi). Arti dari Manunggaling Kawula Gusti (bersatunya saya dan Tuhan), tidak berarti Syekh Siti Jenar menyebut dirinya sebagai Tuhan dan juga bukan bercampurnya Tuhan dengan makhluk-Nya. Konsep ini menyatakan bahwa Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk dan dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah bersatu dengan Tuhannya. Dalam ajarannya pula, Manunggaling Kawula Gusti bermakna bahwa di dalam diri manusia terdapat roh dari Tuhan, dan persatuan kehendak manusia dalam kehendak Tuhan akan berimplikasi pada pertanggungjawaban manusia terhadap alam (lingkungannya), yang disebut hamamayu hayuning bawana (http:// id.wikipedia.org /wiki/ Syekh_Siti_Jenar).

Dalam masyarakat lain, yaitu dalam budaya masyarakat Aborigin diyakini bahwa terdapat empat bagian dalam diri manusia sebagaimana empat arah yaitu timur, selatan, barat, dan utara.Keempatnya saling terkoneksi dalam diri manusia yaitu spirit (timur), tubuh atau body (selatan), emosi (barat) dan pikiran atau mind (utara).Keempatnya juga terkoneksi dalam empat kondisi hidup yaitu bertujuan (spirit), memberi (emosi), memegang (tubuh), dan menerima (pikiran atau mind). Dialog internal dalam diri individu akan mempertahankan keempat kondisi tersebut sehingga akan tercipta keseimbangan dan harmoni. Proses pemulihan tradisional yang dilakukan suku Aborigin juga menemukan bahwa dialog internal antara tubuh,pikiran (mind), emosi, dan spirit merupakan aspek kunci dan membantu tidak hanya individu tetapi juga keluarga dan komunitas di mana individu berada (Meadows dalam McCabe, 2008).

Sementara dalam budaya Maori di Selandia Baru (Mark dan Lyons, 2010) interkoneksi lima aspek yang disebut mind, body, spirit, family, dan land perlu diperhitungkan dalamupaya penetapan kebijakan dan pelayanan perawatan.Uraian ini menunjukkan bahwa budaya tradisional mampu berpartisipasi dalam teknik modern sebagaimana nilai budaya Aborigin kemudian diintegrasikan dengan teknik konseling dan psikoterapi modern (McCabe, 2008)dan budaya Maori dalam perkembangan kebijakan di bidang kesehatan.

Tokoh terkenal Carl Gustav Jung (1875 –1961) adalah psikolog dan psikiater Swiss yang dalam praktik klinisnya sangat mengepksplorasi area yang luas termasuk filosofi Timur dan Barat, astrologi, sosiologi, sastra dan seni. Teorinya disebut ‘analytical psychology’ yang berusaha menyusun peta psyche manusia untuk memahaminya secara menyeluruh, dalam eksplorasi psyche dan idenya tentangarchetype, serta penekanan pada spiritual sebagai aspek penting kehidupan (Snowden, 2006).Integrasi sebagai pendekatan yang menyatukan beberapa sudut pandang yang berbeda makin dikembangkan dalam model biopsikososial yang memiliki asumsi dasar bahwa keadaan sehat (sejahtera) maupun sakit merupakan konsekuensi inter-relasi antara faktor biologis, psikologis, dan sosial (Engel; Schwartz dalam Taylor,2003). Meskipun faktor spirit tidak secara eksplisit disebutkan, penulis beranggapan bahwa faktor ini sebelumnya telah terlebih dahulu diterima sebagai bagian dari proses psikologis.

Dukungan penelitiandikemukakan oleh Ray (2004) yang menjelaskan bagaimana faktor sosial dan perilaku berperan bagi otak dan mempengaruhi kesehatan, keadaan sakit, dan kematian. Olson, Sandor, Sierpina, Vanderpool, dan Dayao (2006) menyatakan bahwa keterbukaan mendiskusikan spiritualitas berkontribusi dalam mencapai kesehatan fisik pasien dan relasi pasien-dokter yang lebih baik. Sikap positif (mind) dapat meningkatkan system imun untuk melawan stress, dukungan social dapat mendorong terjadinya pemulihan, serta keyakinan dalam doa dan semangat (spirit) mendorong tercipatanya kesejahteraan diri –dalam keseluruhan prosesi ini nutrisi menjadi salah satu faktor penting yang direkomendasikan untuk meningkatkan kesehatan mental (Finn,2000). Model bio-psiko-sosial menjadi salah satu rujukan yang menekankan bahwa pemahaman komplit terhadap status kesehatan seseorang sangat memerlukan pengetahuan menyeluruh dan berkesinambungan terhadap fenomena individu. Hal ini berarti satu fenomena saja memiliki berbagai peluang kemungkinan sebab akibat dan kompleksitasnya adalah area terbuka yang perlu diterima seutuh mungkin, bukan sebagai penggalan tanpa konteks.

Aplikasi Integrasi “Body-Mind-Spirit” dalam Kehidupan

Sebenarnya aplikasi integrasi ‘mind-body-spirit’ sangat luas dilakukan dalam berbagai area kehidupan; bahkan dengan memberanikan diri penulis memilih untuk mengatakan bahwa pada semua hal diperlukan kesepatan untuk mengkaji penerapan integrasi ini, dalam berbagai tingkatannya.

Tato yang mungkin sederhana bagi sebagian orang pun dapat dimaknai lebih utuh, seperti dilakukan seorang mahasiswi S-1 dari Universitas Pittsburgh. Ia melakukan penelitian dengan melakukan interviu pada tiga pelukis tato dan tiga belas pemilik tato, dan menemukan bahwa tato merupakan cara ekspresi diri, bagaimana ia menyentuh perasaannya dan membawa perasaan itu keluar dari dalam dirinya. Tato menjadi cara untuk mengenang, mengingatkan suatu tujuan di jaman dunia yang seringkali tanpa tujuan ini. Tato mengkoneksi spiritual inner self dengan dunia materisehingga makna menjadi dapat dialami dan terekspresikan. Tato mewakili sesuatu pada seseorang tanpa perlu ijin pada masyarakatnya, ia dibawa kemanapun pemiliknya pergi, mengkoneksi pikiran dan tubuh selama ia di dunia, melekat pula pada spirit yang dimilikinya (Johnson, 2006). Tulisan ini lebih menarik untuk dibaca dan telah memenangkan hadiah utama kompetisi menulis dalam sebuah konferensi tahunan.

Sebuah analisa cinta memberi penekanan yang berbeda dari tulisan tentang tato di atas.Jika tato dihadirkan tanpa memerlukan ‘ijin’ dari orang lain, Mickel dan Hall (2009) menyatakan bahwa koneksi dengan orang lain merupakan hal terpenting dalam cinta. Semakin terkoneksisesorang dengan yang lain, akan makin tinggi kesadaran dirinya. Hal ini tidak berarti koneksi secara fisik (body) karena justru mencintai secara fisik sangat terbatas karena keharusan untuk ada ‘di sini dan kini’, yang berarti temporer dan terbatas. Mencintai secara utuh perlu tanpa batas; memerlukan cinta yang terealisasi secara spirit supaya bisa terus menerus ada secara fisik (Mickel dan Hall, 2009). Saat cinta menjadi nyata, ia tidak bisa berhenti pada spirit saja tetapi ia memerlukan tindakan (body) dan ide (pikiran). Cinta juga digarisbawahi menjadi hal penting dalam relasi secara umum, termasuk dunia kerja.

Begitu pentingnya nilai ini, Mario Teguh dalam Golden Ways (Metro TV, 13 Maret 2011) mengatakan bahwa toxic boss atau pemimpin yang beracun adalah pemimpin yang tidak penyayang karena penyayang akan membawa pada perilaku menghargai orang lain, adil, dan jujur.Dari dua pendapat tentang cinta / kasih sayang tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai spiritual menjadi bagian penting dalam relasi antar manusia namun mau-tak-mau harus termanifestasikan dalam bentuk pikiran, ide dan kemudian fisik. Dampaknya diyakini pada banyak arah kehidupan: komunikasi dengan orang lain, kebahagiaan, makna hidup, kinerja, dan lain-lain.

Dua contoh tentang tato dan cinta mengirimkan pesan bahwa kajian holistik mampu memberi ruang lebih luas dan dalam, lebih menyentuh, dan lebih ’manusiawi’ dalam pemahaman suatu fenomena. Implementasi praktis atas kajiannya juga diharapkan lebih mengena.

Integrasi Internal bagi Dunia Eksternal

Bagaimanakah konsep manusia sehat itu?Menurut WHO, dampak ‘sehat’ seseorang tidak hanya dirasakan oleh individu yang bersangkutan, tetapi juga bagi lingkungan sosialnya. Jadi, tanpa orang lain yang mengakui bahwa ia sehat secara mental (misal diterima oleh orang lain dan menerima orang lain), ia bukanlah seorang yang sehat secara utuh. Individu yang positif body-mind-and spirit secara integratif pasti berdampak positif pula bagi lingkungan sosialnya. Semakin seseorang mengenali sumber kekuatan di dalam dirinya maka akan positif sikap pada dirinya.Di sisi lain semakin seseorang mengenal lingkungan sekitarnya, (seharusnya) semakin ia mampu memahami, mengontrol, dan menghadapinya secara efektif (Ray, 2004). Kedua aspek tersebut paling tidak menjadi mediator penting sehingga kehidupan internal seseorang pada akhirnya bermuara dalam kualitas kehidupan masyarakat di mana ia turut memberi kontribusi.

Integrasi internal tidak mungkin dapat lepas dari apa yang terjadi di luar diri. Kontek kembali menjadi hal yang penting dan tidak bisa diabaikan.Nah, bercermin pada pemahaman ini, kita bisa bertanya pada diri sendiri: “Di manakah kita (masing-masing individu) dan kita (sebagai Fakultas Psikologi UKSW)berada? Sudahkah kita meletakkan kedua kaki secara integratif ? Alih-alih menambah masalah masyarakat, sudahkah kita mempertimbangkan konteks sejarah dan kebutuhan masyarakat untuk mengambil bagian seoptimal mungkin?” Visi misi yang holistik seharusnya terinternalisasi dalam berbagaibentuk konkrit yang implementatif.Tentu untuk mencapai hal ini semakin diperlukan dukungan semua elemen dalam Fakultas Psikologi UKSW dan variabel sekitarnya (universitas, masyarakat, HIMPSI,dll). Dengan demikian dampak positif yang diharapkan akan dapat tercapai.

PUSTAKA

Finn, S.C. (2000). Big ideas for the 21st century. Journal of women’s health & gender-based medicine, Vol. 9 Number 2.

Johnson, F.J (2006). Tattooing: mind, body, and spirit, the inner essence of the art. Dalam www.pasocsociety.org/johnson.pdfdiunduh dalam tanggal12 Februari 2011.

Mark, G.T.& Lyons A.C. (2010). Maori healers’ view on wellbeing: the importance of mind, body, spirit, family, and land. Social Science and Medicine, Vol. 70 Issue 11, p.1756-1764.

McCabe, G. (2008).Mind, body, emotions and spirit: reaching to the ancestors for healing. Counseling Psychology Quarterly Vol. 21, No. 2, June 2008, 143–152.

Mickel E. & Hall, C. (2009).Choosing to Love: Basic Needs and Significant Relationships. International Journal of Reality Therapy Vol.XXVlll, number 2.

Olson, M.M., Sandor,M.K.,Sierpina, V.S., Vanderpool,H.Y.,& Dayao, P. (2006). Mind, body, and spirit: family physicians’ beliefs, attitudes, and practices regarding the integration of patient spirituality into medical care. Journal of Religion and Health, Vol. 45, No. 2.

Ray, O. (2004). How the mind hurts and heals the body. American Psychologist. Vol. 59, No 1, 29-40.

Snowden, R. (2006). Jung. Chicago: McGraw-Hill Companies.

Taylor, S.E. (2003). Health psychology. New York: McGraw-Hill.

No courses in this category